Mei 2026 menjadi bulan yang sibuk bagi kita di industri SEO dan content marketing. Google mengeluarkan beberapa perubahan besar dalam waktu yang hampir bersamaan, dari Core Update hingga perubahan fundamental cara Search bekerja dengan AI.
Bagi yang mungkin belum sempat mengikuti semuanya, saya coba rangkum dari perspektif praktisi yang setiap hari bergelut dengan konten dan optimasi search.
Yang Terjadi di Mei 2026
1. May 2026 Core Update: Masih Berlangsung
Google mulai merilis May 2026 Core Update pada 21 Mei 2026, dan proses roll out-nya diperkirakan memakan waktu hingga dua minggu. Ini adalah Core Update kedua di tahun 2026 setelah Maret lalu.
Yang menarik: Google mengumumkan update ini pertama kali melalui LinkedIn, bukan melalui blog resmi atau Twitter. Menurut saya ini sinyal penting. Google mulai serius memanfaatkan LinkedIn sebagai channel komunikasi utama ke komunitas SEO dan webmaster.
Sejauh ini pola yang terlihat:
- Thin content semakin tertekan
- Website dengan topical authority yang kuat cenderung bertahan atau naik
- Dampaknya terasa global, termasuk di Indonesia
2. Google I/O 2026: Search Masuk Era AI
Di Google I/O 2026 (yang kebetulan jatuh di minggu yang sama dengan Core Update), Google mengumumkan beberapa hal yang menurut saya lebih berdampak jangka panjang dibanding Core Update itu sendiri:
- AI Mode semakin terintegrasi, dapat mengakses Gmail, Photos, dan data personal user
- AI Overviews semakin luas jangkauannya, tidak hanya di AS
- Universal Cart, konsep shopping cart yang terhubung antar website
- Agentic Search, Google Search dapat bertindak atas nama user (booking, belanja, dll)
Ini yang membuat saya agak khawatir sekaligus tertantang. Jika AI Mode dapat mengakses inbox email user, artinya personalisasi search naik ke level yang sama sekali baru.
3. Google Rilis Panduan Resmi Optimasi AI Search (15 Mei)
Ini mungkin yang paling underrated. Google akhirnya menerbitkan panduan resmi pertama tentang optimasi untuk generative AI search, berjudul Optimizing your website for generative AI features on Google Search.
Beberapa poin penting dari panduan ini:
- SEO masih relevan. AI Overviews dan AI Mode tetap rooted di ranking systems yang sama. Tidak perlu pendekatan yang benar-benar baru.
- Ciptakan konten people-first. Tulis untuk manusia, bukan untuk AI. Berikan unique point of view, buat konten yang helpful, reliable, dan non-commodity.
- Bangun struktur teknis yang solid. Penuhi persyaratan teknis search, ikuti crawling best practices, dan pastikan semantic HTML fokus pada human readability.
- Berikan page experience yang baik. Kecepatan, mobile-friendliness, dan user experience tetap penting, baik untuk user maupun sistem retrieval AI.
- Kurangi duplicate content. Konten yang sama persis atau hampir sama di multiple halaman akan mengurangi peluang dikutip oleh AI.
- Optimalkan detail bisnis dan e-commerce. Pastikan informasi bisnis, produk, dan layanan terstruktur dengan baik.
- Mythbusting. Google menyatakan beberapa taktik seperti chunking, llms.txt, dan menulis konten khusus AI itu tidak diperlukan. Yang penting adalah konten berkualitas dan terstruktur dengan baik.
4. Kritik dari Mike King iPullRank
Salah satu praktisi SEO yang selalu saya pantau adalah Mike King, founder iPullRank, agency SEO berbasis di New York.
Mike menjadi salah satu orang pertama yang mengungkap Google Content Warehouse leak pada 2024, yang membuktikan bahwa public guidance Google seringkali berbeda dengan internal reality mereka.
Yang membuat argumen Mike berbeda dari praktisi lain: Mike selalu mendasarkan analisisnya pada riset akademis, paper ilmiah, patent, dan publikasi engineering, bukan sekadar opini atau tren LinkedIn.
Karena itulah ketika Mike mengkritik sesuatu, saya selalu teliti argumennya.
Panduan Google ini tidak luput dari kritik. Mike King menulis artikel berjudul Google’s Guidance on AI Search is Naive and Self-Serving. Intinya: jangan percaya mentah-mentah!
Argumen Mike yang menurut saya paling kuat:
Pertama, soal chunking. Google mengatakan tidak perlu. Tapi sistem RAG (Retrieval-Augmented Generation) yang mereka sendiri gunakan, termasuk riset internal seperti MUVERA, mengandalkan passage-level retrieval. Bing bahkan lebih terbuka mengenai hal ini, mengatakan bahwa chunking harus dilakukan dengan hati-hati agar maknanya terjaga.
Kedua, soal “it’s just SEO.” Ini argumen yang paling merugikan buat praktisi SEO.
Google ingin kita percaya bahwa GEO (Generative Engine Optimization) sama saja dengan SEO, jadi tidak perlu budget atau resource tambahan.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
GEO bekerja di platform yang berbeda (ChatGPT, Perplexity, AI Overviews, AI Mode) dengan algoritma retrieval yang berbeda pula.
Kita harus mempelajari bagaimana sistem RAG mengekstrak dan menyajikan konten, mengoptimasi passage-level, memastikan struktur data bisa dipahami oleh LLM, dan memonitor visibility di platform yang tidak memiliki Search Console.
Ini semua kerjaan tambahan yang butuh waktu, riset, dan skill baru.
Tapi karena Google bilang “sama aja kok GEO itu SEO,” klien atau stakeholder jadi enggan menambah budget.
Kerjaan nambah, KPI berubah dari ranking ke citation, tapi budget tetap.
Buat orang SEO, statement ini benar-benar merugikan.
Ketiga, soal multi-platform. Panduan Google hanya membahas ekosistem Google. Namun kenyataannya, ChatGPT, Perplexity, Claude, Copilot, dan Bing AI memiliki infrastruktur retrieval sendiri dengan kriteria yang berbeda-beda.
Keempat, soal format konten untuk AI. Mike King mengkritik pendapat bahwa kita tidak perlu mengubah format konten untuk AI.
Menurut Mike, cara sistem RAG mengekstrak dan memahami konten sangat dipengaruhi oleh struktur informasi di halaman.
Konten yang terstruktur dengan baik, dengan heading yang jelas, daftar, tabel, dan ringkasan eksekutif di awal, lebih mudah di-retrieve oleh passage-level retrieval yang digunakan oleh ChatGPT, Perplexity, maupun AI Overviews.
Mengabaikan aspek ini sama saja dengan membiarkan konten kita tidak terlihat di platform AI, karena sistem retrieval tidak bisa mengekstrak intisari dari paragraf panjang yang tidak terstruktur.
Mike berargumen bahwa menyesuaikan format konten untuk bisa perform di GEO itu ada dasar yang kuat, bukan teknik manipulatif.
Dampak Buat Kita di Indonesia
Bagi teman-teman yang memiliki website atau bisnis online di Indonesia, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Konten “Thin” Semakin Berisiko
Core update terbaru semakin memperkuat tren yang sudah dimulai sejak Helpful Content Update. Konten yang tidak memiliki nilai tambah, hasil AI-generated tanpa editing berarti, atau hanya mengejar keyword saja, semakin sulit bertahan.
Jika website Anda mengandalkan konten terjemahan dari sumber lain tanpa perspektif unik, sekarang saatnya evaluasi.
Topical Authority Menjadi Kunci
Konsep topical authority sebenarnya sudah dikenal sejak beberapa tahun lalu, tetapi kini semakin wajib diterapkan karena relevansinya makin nyata di era AI-driven search.
Website yang memiliki otoritas di topik spesifik, dengan konten yang saling terkait dan menunjukkan expertise yang jelas, cenderung lebih tahan terhadap fluktuasi update.
Topical authority ini yang terus saya sempurnakan di website yang kami tangani di Leaftech Digital agar tetap relevan dengan best practice terbaik yang ada saat ini.
Perhatikan Juga AI Search, Bukan Hanya Google
Jangan hanya fokus ke Google Search biasa. Mulai pantau:
- Bing Webmaster Tools. Mereka sudah merilis fitur AI Performance yang dapat melihat seberapa sering konten Anda dikutip di Copilot dan Bing AI
- ChatGPT & Perplexity. Cek secara manual apakah brand atau konten Anda muncul di jawaban mereka
- Page speed. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa page yang sering timeout mendapatkan 18 kali lebih sedikit citation dari AI
Pengalaman User Masih No.1
Pengalaman user tetap menjadi prioritas utama dalam strategi konten dan teknis website.
Tidak ada satupun mesin pencari atau AI yang akan merekomendasikan website yang memberikan pengalaman buruk kepada pengguna.
Konten yang sulit dibaca, navigasi yang membingungkan, atau halaman yang lambat akan tetap dihindari, baik oleh manusia maupun oleh sistem AI.
Namun perlu diingat bahwa mesin memiliki parameter dan algoritma penilaian yang jelas, berdasar pada data dan angka.
Kecepatan halaman diukur dalam milidetik, struktur konten dinilai dari markup HTML, dan kualitas konten dievaluasi melalui sinyal-sinyal yang bisa diukur.
Hal ini berarti kita tidak bisa hanya mengandalkan “kesan baik” di mata manusia.
Kita harus bisa mengoptimalkan keduanya: memberikan pengalaman yang luar biasa bagi pengguna, sekaligus memenuhi standar teknis yang ditetapkan oleh mesin pencari dan sistem retrieval AI.
Apa Yang Saya Lakukan di Leaftech?
Bagi yang penasaran, ini beberapa langkah yang saya terapkan:
- Audit konten existing. Cek artikel mana yang performanya turun setelah update, evaluasi apa yang kurang
- Optimasi passage-level. Membuat konten yang per potongannya dapat berdiri sendiri, bukan paragraf panjang yang isinya campur aduk
- Pantau Bing Webmaster Tools. Pasang domain dan lihat data AI citation-nya
- Buat llms.txt. Tidak ada ruginya, malah membantu platform AI lain memahami struktur konten
- Evaluasi page speed. Pastikan server tidak lambat, karena ini berpengaruh langsung ke AI visibility
- Tambah E-E-A-T signals. Pastikan setiap artikel memiliki byline penulis yang jelas, dengan bio yang menunjukkan expertise
Referensi
Jika ingin membaca lebih lanjut:
- Google I/O 2026 Search updates: https://blog.google/products-and-platforms/products/search/search-io-2026
- Google AI Optimization Guide: https://developers.google.com/search/docs/fundamentals/ai-optimization-guide
- Artikel Mike King: https://ipullrank.com/google-ai-search-guidance
Ditulis berdasarkan pengalaman langsung dan riset dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat bagi teman-teman sesama pegiat SEO dan content marketing di Indonesia.
Tentang Penulis
Dimas Pribadi adalah CEO Leaftech Digital. Sehari-hari bergelut dengan strategi konten, SEO, dan pengembangan website. Dapat dihubungi melalui LinkedIn atau email.
